Senin, 26 September 2016

Dokter Kurang Ramah, Warga Berobat ke Malaysia

 Buat Baca-baca biar gaul dikit hehehe....

JAKARTA 26 Sep 2016 (Suara Karya): Pemerintah harus memiliki kemauan politik (political will) yang kuat untuk menyediakan layanan kesehatan yang prima dan terjangkau sehingga masyarakat tidak perlu berobat ke Malaysia atau negara lain.
"Sekarang persoalannya, mau atau tidak pemerintah menyediakan layanan kesehatan prima dengan biaya murah. Kalau bisa, saya yakin sedikit sekali orang Indonesia yang berobat ke luar negeri," kata Prof Dr Hasbullah Thabrany dari Center for Health Economics and Policy, Universitas Indonesia, di Jakarta, Rabu (18/7), ketika diminta tanggapannya oleh Suara Karya seputar makin maraknya warga Indonesia yang berobat ke Malaysia.
Prof Hasbullah menambahkan, dari segi kualitas, dokter Indonesia sebenarnya tidak kalah dibanding dokter Malaysia.
  Namun sayangnya, dokter Indonesia terlalu banyak yang nyambi dengan bekerja di beberapa rumah sakit. Akibatnya, waktu percakapan dengan dokter terasa sangat sempit dan terburu-buru. Pasien pun kemudian merasa tidak puas.
"Ini berbeda dengan dokter Malaysia yang hanya bekerja di satu rumah sakit. Mereka bisa terfokus terhadap pasien. Mereka punya banyak waktu bagi pasien yang bertanya seputar penyakitnya.
 Pasien merasa benar-benar dilayani. Ini yang sulit didapatkan dari layanan rumah sakit di dalam negeri," tutur Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu.
Maraknya warga Indonesia berobat ke Malaysia sebelumnya disinggung Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof Ali Ghufron Mukti. Menurut Wakil Menkes, dokter maupun teknologi kesehatan Indonesia tidak kalah dibanding Malaysia. Bahkan dokter Malaysia pun banyak lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.
"Saya heran, banyak pasien yang memilih berobat ke Malaysia. Padahal, dokter di sana itu lulusan Indonesia juga. Saat ini paling tidak ada sekitar 200 sampai 400 dokter Malaysia lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta," kata Ali Ghufron di Solo, Selasa (17/7).
Wakil Menkes mengakui, salah satu kelemahan rumah sakit di Tanah Air adalah minimnya kerja sama tim saat menangani pasien. "Rumah sakit Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari Malaysia, terutama soal bagaimana memberikan pelayanan yang prima," ucapnya.
Malaysia saat ini memang tergolong sukses dalam menyediakan program wisata kesehatan bagi penduduk Indonesia, yang sangat mendambakan layanan prima dengan harga murah. Situs malaysiahealthcare .com mencatat kunjungan turis untuk wisata kesehatan Malaysia ini secara statistik terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2007 saja tercatat 386.000 turis yang berobat ke Malaysia, dan meningkat menjadi 410.000 pada tahun 2009. Dari total kunjungan wisata berobat itu, 70 persennya adalah dari Indonesia.
Pendapatan yang diperoleh Malaysia dari sektor wisata kesehatan ini juga relatif lumayan. Pada tahun 2006 tercatat Malaysia memperoleh 167 juta ringgit atau 480 miliar rupiah lebih dari sektor ini dan meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diprediksi mencapai 6 triliun rupiah lebih tahun 2010.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof Rusdi Lamsudin, menilai kondisi semacam itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebab, dampak yang timbul bisa berupa masalah ekonomi maupun harga diri para dokter Indonesia.
"Berapa devisa negara yang terbuang ke luar negeri untuk tindakan yang sebenarnya bisa dilakukan dalam negeri? Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus," ucap Rusdi di Yogyakarta kemarin.

India Bisa, Kenapa Indonesia Tidak?

Dari latar belakang sejarah, ekonomi maupun politik, India sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. India adalah negara demokrasi bekas jajahan Inggris yang merdeka pada tahun 1947 dan termasuk dalam kelompok negara berkembang. 

Tetapi ekonomi India terus tumbuh berkembang menjadi salah satu raksasa ekonomi yang terus berusaha mengejar pertumbuhan ekonomi Cina, raksasa ekonomi Asia lainnya. Pertanyaannya, kenapa Indonesia yang sama-sama negara demokrasi dan merdeka lebih dulu tetapi sepertinya dalam segala hal tertinggal jauh dibelakang India?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/adinesamson/india-bisa-kenapa-indonesia-tidak_552ba08e6ea834c13c8b4584


Dari pengamatan  selama ini, ada beberapa faktor yang menyebabkan India bisa jauh lebih maju dari Indonesia.

 1.Identitas Kebangsaan India adalah bangsa yang bangga akan identitas dirinya dalam segala hal. India adalah satu-satunya negara di dunia yang bisa menyaingi produksi film Hollywood, karena India mempunyai Bollywood, produsen film terbesar di dunia. 

Bukan hanya dalam hal kuantitas, tetapi dalam hal identitas budaya, film-filmnya sangat berkarakter india banget. Bahkan ibu Megawati, mantan Presiden kita pernah dalam satu kesempatan menyampaikan harapannya agar film Indonesia bisa mempunyai karakter kuat seperti layaknya film India, dengan selorohnya, “kalau film India, kita nontonnya sambil merem juga langsung tahu kalau itu film India.” Saking kuatnya karakter film India, sampai menjadi bahan anekdot di kita, kalau orang India itu nggak boleh lihat atau dekat-dekat pohon atau tiang listrik, karena kalau dekat pohon pasti langsung nyanyi dan menari-nari memeluk-meluk pohon seperti adegan di hampir semua film India era 80-an.

Bukan hanya di film, kebanggaan India juga melekat pada hampir semua pejabat negaranya. Berbeda dengan di Indonesia, pejabat di India lebih bangga berpakaian tradisional India dan berkendara dengan mobil dinas produksi Tata Motor, produsen otomotif terbesar di India, yang jauh dari kesan mewah dan mahal, sangat kontras dengan mobil dinas di negara kita.

2.Politik Luar Negeri Sebagai sesama pencetus gerakan non blok, pada dasarnya politik luar negeri India dan Indonesia tidak jauh berbeda. Secara geopolitik, India berada di wilayah Asia Selatan yang penuh dengan konflik dan berhadapan dengan Pakistan yang mempunyai senjata nuklir dan menjadi “sarang bebarapa teroris” musuh AS. Dengan bekal itu India berhasil memainkan peranannya dalam menjaga stabilitas keamanan dalam negeri maupun stabilitas kawasan regionalnya. Dengan kekhawatiran kesulitan mengontrol Pakistan, mau tidak mau AS “membiarkan” India menjadi kuat (dengan nuklir dan teknologi militer lainnya) untuk mengimbangi kekuatan Pakistan. Padahal, di sisi lain AS tidak begitu menyukai India, yang masih bekerjasama (baik ekonomi maupun militer) dengan “seteru” abadinya, yaitu Rusia.

Pertanian RI Tertinggal dari Thailand dan Vietnam

Tanya kenapa mbah Putri ?


Harga bahan pangan dari hasil pertanian di Indonesia terbilang mahal di tingkat konsumen. Penyebabnya adalah kesemrawutan pengelolaan lahanpertanian, pola pasokan dan distribusi sampai kepada keuntungan, atau marjin perdagangan dan pengangkutan (MPP) yang tinggi. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan di luar negeri, terutama Thailand dan Vietnam.

Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi Lumaksono mengungkapkan ‎pola distribusi perdagangan komoditi strategis per provinsi di Indonesia sangat bervariasi.
Contohnya pola terpanjang terjadi pada distribusi cabai merah di Propinsi Jawaa Tengah dan terpendek di jalur distribusi perdagangan bawang merah di Maluku Utara.
"Distribusi perdagangan beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras dari produsen sampai konsumen akhir melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan usaha perdagangan," ujar Adi di Jakarta, seperti ditulis Senin (8/2/2016).

"Thailand dan Vietnam, antara produksi, distribusi, dan pasokan bahan pangan lebih baik, lancar. Vietnam, misalnya, punya masterplan sektor pertanian yang bagus. Contohnya rasio antara lahan pertanian dan rumah penduduk sudah diatur. Memang di Indonesia pengelolaan ‎lahan pertanian masih lemah. Konversi lahan masif terjadi di mana-mana, kalau untung besar dijual saja," ujar Adi.

Sementara itu, katanya, pola distribusi dan jalur perdagangan di negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand lebih baik. Arus perdagangan dari produsen ke konsumen lancar dengan dukungan transportasi dan infrastruktur memadai serta kesejahteraan atau daya beli masyarakatnya.

Vietnam, ia menuturkan, merupakan salah satu negara yang tertinggal dari Indonesia. Namun kini Indonesia bergantung pada impor beras dari negeri tersebut. Peta jalan sektor pertanian di Thailand pun bernasib sama dengan Vietnam, sehingga memiliki masa depan cerah.
"Pertanian yang maju dan kita kalah adalah dengan Thailand, seperti beras, sayur mayur, buah-buahan. Paling penting agen maupun pengecer bahan pangan tidak mematok marjin selangit, seperti di Indonesia," ucap Adi.
Hanya saja, Adi menepis anggapan harga beras Indonesia yang termahal dibanding negara lain se-ASEAN. Namun katanya, Menteri Pertanian pernah membeberkan harga beras di Indonesia jauh lebih murah dibanding negara di kawasan Asia Tenggara.
"Tapi kenapa harga beras impor Thailand sangat murah, saya duga ada dumping. Tapi saya tidak tahu persisnya," tutur Adi.‎ (Fik/Ahm)